Presiden Joko Widodo (Jokowi)
menjewer imigrasi terkait persoalan pelayanan lantaran banyak keluhan dari para
investor sulitnya mengurus visa. Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni menilai
'jeweran' Jokowi sebagai bentuk komplain berat.
Untuk diketahui, posisi Dirjen
Imigrasi sudah setahun ini diisi pelaksana tugas (Plt). Jabatan Dirjen Imigrasi
diisi pelaksana tugas sejak 30 Juni 2021. Seleksi terbuka untuk posisi Dirjen
Imigrasi juga baru diumumkan oleh Kemenkum HAM pada 27 Juli 2022.
"Masalahnya yang saya tahu saat
ini Dirjen Imigrasi belom ada dan masih Plt. Pembenahan tentang yang di sentil
presiden ini bentuk komplain berat kalau sudah sampai ke publik," kata
Sahroni saat dihubungi, Minggu (11/9/2022).
Ditjen Imigrasi di Bawah Kementerian
Apa? Ini Penjelasannya
Sahroni kemudian mendesak Menkum HAM
Yasonna Laoly mempercepat proses seleksi Dirjen Imigrasi. Dia mengatakan
Yasonna wajib mempercepat proses seleksi.
"Sangat perlu dipercepat agar
diisi langsung posisi dirjennya. Pak Mentri Yasonna wajib percepat proses
kekosongan Dirjen Imigrasi tersebut," ujarnya.
Sahroni meyakini Yasonna merupakan
sosok yang tegas dalam hal pelayanan publik. Dia menduga staf imigrasi tidak
sensitif terhadap pelayanan publik.
"Saya meyakini kalau Pak
Yasonna tertib dan tegas tentang hal-hal pelayanan publik, tapi terkadang
stafnya mungkin saja agak lemot dan tidak sensitif akan pelayanan,"
imbuhnya.
Seperti diketahui, gaya lama
imigrasi dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat berbuntut panjang.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan 'menjewer' imigrasi dan mengancam akan
mengganti dirjen hingga bawahannya.
Pernyataan Jokowi ini diketahui
disampaikan saat memimpin rapat bersama jajarannya yang digelar di Istana
Merdeka, pada Jumat (9/9/2022). Rapat ini secara khusus membahas mengenai visa
on arrival (VoA) dan Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas).
Jokowi mulanya mengungkap banyak
keluhan dari para investor terkait sulitnya mengurus visa di imigrasi. Jokowi pun
meminta imigrasi berubah total bukan hanya sekadar mengatur dan mengontrol
saja, tapi juga memudahkan masyarakat.
"Jadi yang kita lihat dan
disampaikan ke saya, banyak, baik dari investor, baik mengenai turis, baik
mengenai orang yang ingin dapat Kitas izin tinggal, auranya yang saya rasakan
itu, imigrasi ini masih mengatur dan mengontrol. Sehingga apa? Akhirnya apa?
Menyulitkan. Ini yang diubah total, harus. Yang seharusnya auranya adalah
memudahkan dan melayani. Harus berubah total. Kalau perlu, dirjennya ganti,
bawahnya ganti semua, biar ngerti bahwa kita ingin berubah. Kalau kita ingin
investasi datang, turis datang, harus diubah," kata Jokowi.
Jokowi ingin pemberian visa dilihat
dari besarnya investasi. Tak hanya itu, kata Jokowi, imigrasi juga harus
melihat kontribusi investor dalam hal membuka lapangan kerja hingga terhadap
peningkatan ekspor.
"Jadi orang diberikan, baik itu
yang namanya visa, yang namanya Kitas-kalau kita ya-mereka melihat itu. Kalau
dia investor, investasinya berapa, sih? Dia lihat, negara itu pasti lihat. Dia
membuka lapangan kerja berapa ribu orang, sih? Atau memberikan kontribusi
terhadap ekonomi kita berapa, sih? Orientasinya mesti harus ke sana. Atau
meningkatkan ekspor berapa, sih?" kata Jokowi.
Jokowi menegaskan visa maupun Kitas
bagi para investor akan memberikan manfaat bagi rakyat Indonesia. Jokowi pun
mengancam akan mengganti dirjen sampai bawahan di imigrasi bila tak mampu
melakukan perubahan di sistem imigrasi Indonesia.
"Ini yang begini-begini ini
bermanfaat sekali bagi rakyat kita. Kita harus mulai betul-betul, Pak Menteri,
mengubah ini, Pak. Ganti itu kalau kira-kira memang tidak punya kemampuan untuk
reform seperti itu, ganti semuanya dari dirjen sampai bawahnya, ganti, akan
berubah. Kalau tidak, tidak akan berubah," tuturnya.

0 Komentar